Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Dinilai Paling Tepat untuk Bali
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pemerhati Lingkungan sekaligus Ketua Yayasan Pembangunan Bali Berkelanjutan, Ketut Gede Dharma Putra, menyatakan bahwa pengelolaan sampah berbasis sumber merupakan solusi paling tepat untuk mengatasi persoalan sampah di Bali. Menurutnya, metode ini efisien, murah, dan ramah lingkungan.
“Sesuai dengan teori-teori, semakin dekat pengelolaan dengan sumber sampahnya, maka prosesnya akan menjadi lebih efisien, mudah, dan murah,” ujar Dharma Putra.
Namun, Dharma Putra menekankan bahwa keberhasilan metode ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan tersedianya infrastruktur yang memadai.
Ia menyoroti bahwa tantangan terbesar bukan hanya teknis, tapi juga soal mengubah perilaku masyarakat yang hidup dalam kondisi sosial yang beragam.
“Tak semua warga punya lahan luas untuk memilah sampah. Ini menjadi kendala di permukiman padat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peran penting pemerintah desa dalam sistem pengelolaan sampah ini. Menurutnya, kemampuan desa sangat tergantung pada potensi ekonomi yang dimiliki.
“Desa-desa yang berada di kawasan pariwisata, punya pantai indah, hotel, dan pura besar, biasanya memiliki pendapatan yang lebih dan mampu mengelola sampah. Tapi banyak juga desa yang tidak punya potensi seperti itu. Maka pendekatannya harus disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas masing-masing desa,” katanya.
Dharma Putra juga mengingatkan bahwa pengelolaan residu sampah perlu ditangani oleh pemerintah kabupaten atau kota. Ia menilai desa belum bisa mengelola residu secara mandiri karena keterbatasan lahan dan risiko lingkungan.
Dharma Putra memperkirakan, jika pemilahan sampah dari rumah tangga berjalan dengan baik, maka volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) bisa ditekan hingga tinggal 15–20 persen dari total sampah.
Dharma Putra mengatakan jika pola ini terwujud maka akan dapat mengurangi beban anggaran. Sehingga dengan politik anggaran saat ini, menurutnya masing-masing kabupaten/kota bisa menyiapkan fasilitas pemusnah sampah residu.
“Kalau ini berhasil, anggaran untuk tipping fee dan pembelian mesin insinerator bisa dikurangi, terangnya.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan