Kader Republikan Ngamuk, Ancam Jegal Agenda Trump Gegara Cabut Sanksi Rusia
DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON Kemesraan tak terduga antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Rusia rupanya bikin panas kuping internal partainya sendiri. Sejumlah politisi elite Partai Republik (GOP) kini terang-terangan berani melawan sang presiden. Mereka mengancam akan mencabut dukungan dana di Kongres untuk agenda-agenda ambisius Trump lantaran muak dengan caranya yang dinilai “memalukan” dalam menangani perang Ukraina. Salah satunya mencabut sanksi Rusia.
Seperti yang dilansir The Guardian, Don Bacon, anggota DPR AS dari Dapil Nebraska yang akan segera purnatugas, melontarkan kritik pedas. Ia mengutuk manuver Trump—yang secara mengejutkan sepakat membeli solar Rusia dan menangguhkan sanksi terhadap Moskow—sebagai tindakan yang “benar-benar memalukan”. Bacon bahkan menuding bosnya itu sedang asyik bermanis ria dengan sosok “penjahat perang” sekaliber Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Ini benar-benar memalukan, dan banyak dari kami dari Partai Republik tidak bisa mentolerirnya,” cetus Bacon kepada CNN, Senin lalu. “Saya rasa pengaruh presiden di Kongres ini sudah hancur.”
Beli Solar dan Cabut Sanksi Rusia, Trump Dianggap ‘Lembek’
Kemarahan para dedengkot Republikan ini bukan tanpa alasan. Pekan lalu, Trump nekat mencabut sanksi Rusia yang sebelumnya diatur dalam undang-undang yang menggunakan nama sekutu lamanya, mendiang Senator Lindsey Graham. Padahal, beleid itu baru saja diteken Trump bulan lalu dengan tujuan mencekik finansial Rusia setelah empat tahun lebih menginvasi Ukraina.
Bukannya menekan Moskow, Trump malah banting setir mengumumkan kesepakatan impor bahan bakar solar dengan Putin. Solar belakangan memang mencekik kantong warga AS imbas ketegangan Trump dengan Iran. Namun, untuk menutupi hal itu, Trump justru menyalahkan serangan Ukraina ke wilayah Rusia.
Akhir pekan lalu, Trump makin menjadi-jadi dengan menyebut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, “tidak peduli” dengan dampak serangan Ukraina ke Rusia dan “tidak ingin mengakhiri perang ini dan mungkin tidak pernah (ingin) sama sekali” karena Ukraina keenakan menerima suntikan dana dari Eropa.
Puncaknya pada hari Senin(19/10/2026) , Trump menyentil Zelenskyy agar lengser, dengan dalih sudah “waktunya bagi orang lain untuk bernegosiasi mewakili Ukraina”. kata Trump.
Menanggapi tekanan ini, Zelenskyy dalam wawancara dengan Bloomberg blak-blakan menyebut Trump sedang bermanuver untuk “meyakinkan Ukraina agar menyerah” pada tuntutan Rusia. Meski begitu, lewat media sosialnya, Zelenskyy menegaskan Ukraina tetap setia bermitra dengan AS.
Ancaman Boikot Anggaran Kongres Menggema
Melihat arah angin kebijakan luar negeri yang makin mencla-mencle, Senator Darline Graham dari South Carolina (adik mendiang Lindsey Graham) akhirnya pecah kongsi dengan presiden.
“Secara pribadi, saya lebih memilih untuk menekan Rusia agar mengakhiri perang dan menurunkan harga bensin, karena saya tidak percaya Putin, dan saya tidak percaya Rusia,” tegasnya kepada wartawan, Sabtu pekan lalu.
Kritik tajam juga datang dari Senator Bill Cassidy asal Louisiana. Menanggapi editorial Wall Street Journal terkait isu ini, ia menulis di X (Twitter): “(Ronald Reagan) dan (Lindsey Graham) akan malu melihat ini.” Mantan capres AS yang juga eks Senator, Mitt Romney, ikut buka suara dengan menyebut bahwa jika AS meninggalkan Ukraina, itu sama artinya dengan “meninggalkan kebebasan”.
Kekhawatiran parlemen AS makin memuncak setelah militer Ukraina dilaporkan dibatasi aksesnya menuju Starshield—layanan internet satelit militer besutan perusahaan Elon Musk, Starlink. Musk bahkan sempat mengisyaratkan bahwa akses tersebut dikontrol langsung oleh pemerintah AS. Parahnya lagi, untuk ketiga kalinya, Zelenskyy menuduh pemerintah AS sengaja menahan informasi intelijen penting soal serangan rudal Rusia pada Minggu malam.
Anggota DPR dari Pennsylvania, Brian Fitzpatrick, murka melihat rentetan kejanggalan ini. Kepada MS Now, ia menegaskan pemerintahan Trump belum memberikan “jawaban yang memadai” soal gangguan Starshield maupun transaksi aneh pembelian solar Rusia.
“Ini sangat tidak bisa diterima, dan ini tidak akan dibiarkan,” ancam Fitzpatrick. “Akan ada konsekuensinya. Dan ngomong-ngomong, ini bukan cuma soal Starshield. Ini soal kesepakatan solar. Ini soal pencabutan sanksi. Ini soal semua hal tersebut.”
Fitzpatrick mengancam para legislator di Capitol Hill akan “menuntut akuntabilitas” dan siap mengambil “tindakan anggaran yang menghukum” guna memaksa pemerintah buka suara.
Ancaman boikot ini diamini oleh Don Bacon yang memastikan dirinya emoh menyetujui anggaran untuk proyek-proyek mercusuar Trump—seperti pembangunan gapura kemenangan atau ballroom baru di Gedung Putih—selama bantuan untuk Ukraina masih disandera.
“Kenapa saya harus mendukung prioritas presiden, seperti gapura kemenangan?” sindir Bacon. “Terus terang, apa yang saya lihat dia lakukan di sini adalah menyerah.”
“Kenapa kita harus mencoba mengakomodasinya dan berkompromi soal pendanaan ketika dia sangat mempermalukan negara ini dengan apa yang dia lakukan bersama Putin dan Zelensky?” pungkas Bacon tajam.

Tinggalkan Balasan