DIKSIMERDEKA.COM, MANGGARAI – Kampung Nelayan Merah Putih di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai dibangun. Kampung Nelayan tersebut merupakan program inisiatif Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, terutama dukungan infrastruktur terintegrasi dan modernisasi hulu hilir.

Lokasi pembangunannya di atas lahan milik Pemda Manggarai tepatnya di Kampung Nanga Banda, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok.

“Bulan Oktober ini kita sudah mulai bangun, lahan Pemda di Nanga Banda Reok sudah ada sekitar 1 hektare. Kemarin kita sudah patok dan Senin tanggal 5 mulai kerja” ujar Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Manggarai, Hendrik Sukur ditemui di Posko BPBD, Kamis 1 Oktober 2026.

Proyek pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini, kata dia, dikerjakan oleh PT Bumi Palapa Perkasa dengan anggaran sekitar Rp.7 miliar untuk masing-masing unit yang akan dibangun. Anggaran tersebut bersumber dari Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Unit yang akan dibangun itu antara lain, pabrik es, tempat penjualan ikan, ruang pendingin, balai nelayan, pon bensin mini, doking kapal dan lain sebagainya.

“Jadi semua anggarannya dari pusat untuk tiap unit itu. Kami di daerah hanya berurusan dengan tata ruang berupa penyiapan lahan” jelasnya.

Menurut Hendrik, secara juknis Kampung Nelayan Merah Putih ini selanjutnya akan dikelolah oleh Koperasi Desa Merah Putih jika sudah selesai dibangun. Penugasan tersebut ditetapkan melalui keputusan bersama lintas lembaga.

Sebelumnya Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Manggarai, Venantius mengatakan, pilihan tanah Nanga Banda Reo untuk dijadikan kampung nelayan merah putih sangatlah strategis, selain karena letaknya di pesisir pantai utara, tanah tersebut juga berukuran besar dan membentang luas.

Aset tanah lainnya, kata Venantius, juga ada di Kecamatan Satarmese, namun karena luasnya hanya 250 meter persegi maka belum layak diusul.

“Sebenarnya satu lahan kami usul di Satarmese, setiap kabupaten minimal dua lahan, tetapi karena luasnya tidak mencukupi makanya pindah ke tanah Nanga Banda Reo” katanya.

Reporter: Berto Davids