DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pengurangan emisi metana dari sektor persampahan menjadi salah satu pembahasan dalam MERIT Conference 2026 bertajuk “From Measurement to Mitigation: Membangun Sistem Pengurangan Metana dari Sektor Sampah” yang diselenggarakan oleh Dietplastik Indonesia, PPLH Bali, dan YPBB Bandung.

Konferensi ini mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, komunitas ilmiah, mitra internasional, donor, media, serta pemangku kepentingan persampahan untuk membahas pengembangan sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) emisi metana dari sektor persampahan di Indonesia.

Direktur Eksekutif Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yudha Hariani mengatakan pengurangan emisi metana dari sektor persampahan tidak bisa dilepaskan dari persoalan bagaimana sampah dikelola sejak dari sumber hingga tempat pemrosesan akhir (TPA).

Ia mengatakan sebelum menentukan intervensi yang tepat, dibutuhkan data yang dapat menunjukkan dari mana emisi berasal, seberapa besar emisinya, dan bagaimana perubahan yang terjadi setelah intervensi dilakukan.

Ia mengatakan pembuangan sampah ke TPA tidak bisa lagi dianggap sebagai hal yang biasa atau solusi akhir untuk semua jenis sampah.

“Sampah organik yang masuk dan tertimbun di TPA dapat menghasilkan emisi metana. Dan untuk mengurangi emisi tersebut, kita perlu mengetahui terlebih dahulu berapa besar emisinya melalui pengukuran yang kredibel. Inilah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Proyek MERIT sampai dengan fase saat ini,” jelas.

Catur mengatakan pengukuran yang kredibel menjadi bagian penting karena angka emisi yang digunakan sebagai dasar kebijakan perlu mencerminkan kondisi di lapangan.

Adapun pada sesi pertama, MERIT Conference membahas pendekatan pengukuran emisi metana di TPA, yakni melalui data satelit, data komposisi sampah, dan sensor Closed Flux Chamber (CFC) di tiga wilayah proyek.

Salah satu yang dilakukan dalam Proyek MERIT kali ini adalah mengukur perbedaan emisi yang timbul pada musim yang berbeda.

Tenaga Ahli Proyek MERIT Didin Agustian Permadi mengatakan proses anaerobik di TPA pada musim kemarau menghasilkan flux metana yang lebih tinggi pada pengukuran yang dilakukan.

“Namun, data ini perlu dikembangkan oleh pemerintah daerah dengan pemetaan risiko agar tidak terjadi kebakaran TPA yang berulang,” jelasnya.

Pada sesi kedua, pembahasan berfokus pada intervensi pengolahan sampah organik di luar TPA, metode pengukuran emisi pada fasilitas pengolahan, serta kebutuhan sistem informasi yang dapat menghubungkan data dari berbagai tahapan pengelolaan sampah.

Tenaga Ahli MERIT, Siti Ainun mengatakan pengukuran MERIT menunjukkan bahwa emisi metana dapat muncul pada berbagai sistem pengolahan sampah organik.

Pada studi kasus ini, lubang kompos menunjukkan flux tertinggi di antara pengolahan organik skala komunal lainnya. Banyak faktor yang memengaruhi produksi metana dari pengolahan, mulai dari konstruksi hingga operasionalisasi.

“Data seperti ini penting agar kebijakan pengurangan emisi tidak hanya berfokus pada lokasi pembuangan akhir, tetapi juga mempertimbangkan kinerja pengolahan sampah di sepanjang rantai pengelolaan,” ungkap.

Pengalaman Bandung, Bali, dan Jakarta menjadi bagian dari pembahasan untuk melihat bagaimana sistem informasi persampahan dapat dikembangkan.

Selain Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dan sistem informasi yang telah digunakan di sejumlah daerah, MERIT Conference juga membahas prototipe sistem data yang dikembangkan untuk membantu menjawab kesenjangan informasi dalam pengelolaan sampah dan pengukuran emisi.

Tenaga Ahli MERIT, Brandon Tjiandra mengatakan sistem pengelolaan data sampah perlu bertransformasi dari pencatatan manual menuju sistem informasi yang berbasis data primer dan terverifikasi.

Dalam Proyek MERIT, data pengelolaan sampah yang terdigitalisasi dan terverifikasi secara berjenjang dapat dicatat secara lebih terstruktur, ditelusuri asalnya, dan dikonsolidasikan sehingga lebih siap digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

“Inilah yang kami bangun dalam sistem informasi di Proyek MERIT untuk dapat digunakan di tiga wilayah proyek,” ujar Tim

Data yang semakin baik pada akhirnya perlu berujung pada kebijakan yang lebih tepat. Hal tersebut menjadi pembahasan pada sesi ketiga yang membahas policy pathway, tata kelola, perkembangan Nationally Determined Contribution (NDC) dari sektor sampah, pengalaman dari negara lain, serta rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.

Koordinator Pokja Perencanaan dan Pemantauan Aksi Mitigasi Sektor Non-Lahan Kementerian Lingkungan Hidup, Della Guniastuti mengatakan sektor limbah sudah mencapai target reduksi emisi.

Ia mengatakan aksi mitigasi sektor limbah, terutama domestik, masih di bawah target tahunan emisi. Tapi potensi untuk pengurangan emisi dari sampah organik cukup besar, seperti pengolahan kompos.

“KLH dengan Kementerian ESDM sedang menyusun peta jalan metana. Bahkan ekoregion Jawa sedang menyusun potensi reduksi metana dari seluruh TPA di Jawa. Harapannya, ini menjadi contoh di region lain terkait pengurangan metana,” ujarnya.

Tenaga Ahli MERIT, Prof. Dr. Ir. I Made Sudarma, mengatakan berbagai aksi lokal telah dilakukan untuk mengurangi metana, namun diperlukan perubahan untuk menjadikan hal tersebut bagian dari aksi iklim.

“Kalau kita ingin aksi lokal berkembang menjadi penggerak perubahan, kita membutuhkan sistem yang mendukungnya. Ini dimulai dari mandat dan kelembagaan yang jelas, sistem MRV yang berjenjang dan saling terhubung, serta memastikan hasil pengukuran benar-benar masuk ke dalam perencanaan dan pendanaan,” jelasnya.

Dukungan gerakan internasional turut menjadi bagian dari pembahasan melalui Global Methane Hub, yang berbagi pengalaman mengenai praktik pengurangan emisi metana dari sektor sampah.

Director for Waste/Circular Economy Global Methane Hub, Carolina Urmeneta mengatakan saat ini semua memiliki peluang besar untuk menghubungkan data dari sektor persampahan dengan agenda perubahan iklim.

Data yang lebih kuat dan kredibel tidak hanya dapat membantu Indonesia mengidentifikasi dan mengurangi emisi metana, tetapi juga memperkuat dasar untuk menjawab kesenjangan pendanaan di sektor persampahan serta mendorong pemanfaatan produk hasil pengolahan sampah organik.

“Momentum ini semakin penting karena pengelolaan sampah dan pengurangan emisi metana semakin mendapat perhatian dalam agenda iklim global, termasuk menjelang COP31,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya ini adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan data dan pembelajaran dari Proyek MERIT sebagai dasar untuk memperkuat kebijakan dan aksi Indonesia, sekaligus mendorong Indonesia mengambil posisi sebagai pemimpin dalam upaya pencegahan emisi metana.

Dengan mempertemukan data, pengalaman lapangan, dan perspektif kebijakan dalam satu forum, MERIT Conference 2026 mendorong agar pengukuran emisi metana dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Bukan hanya mengetahui berapa banyak emisi yang dihasilkan sektor persampahan, tetapi juga menentukan langkah yang perlu dilakukan untuk menguranginya.

Editor: Agus Pebriana