Darurat Ketamin di Inggris: Ginjal Remaja 14-15 Tahun Hancur Akibat Kecanduan Obat Bius
DIKSIMERDEKA.COM LIVERPOOL – Krisis kesehatan yang mengkhawatirkan tengah menghantam sistem medis di Inggris. Anak-anak yang baru menginjak usia 13 tahun kini harus dirujuk ke klinik spesialis akibat kondisi kandung kemih yang hancur. Biang keladinya bukan penyakit genetik, melainkan paparan kronis dan kecanduan narkotika jenis ketamin.
Fakta muram ini terungkap setelah tim medis di Rumah Sakit Anak Alder Hey, Liverpool, membuka klinik ketamin pertama di Inggris untuk pasien usia muda. Langkah darurat ini diambil di tengah lonjakan drastis masalah urologi yang terkait langsung dengan kecanduan obat bius tersebut.
Apa Itu Ketamine Bladder? Penyebab dan Dampaknya
Dalam dunia medis, kondisi ini disebut sebagai Ketamine-induced uropathy—atau lebih lazim dikenal sebagai ketamine bladder (air kencing ketamin). Ini adalah kondisi medis yang sangat parah dan menyakitkan di mana obat tersebut merusak organ kandung kemih, saluran kemih, dan ginjal.
Penyebabnya berakar pada penggunaan ketamin yang berlebihan. Ketika dikonsumsi, obat dan produk sisa metabolismenya akan mengendap di dalam kandung kemih untuk waktu yang lama, lalu secara agresif merusak lapisan mukosa dan jaringan otot di sekitarnya.
Ketamine adalah obat bius (anestesi) yang biasanya ditemukan di ruang gawat darurat, unit penanganan luka bakar, atau di fasilitas medis angkatan bersenjata. Obat ini disukai dokter karena bisa membius tanpa menekan sistem pernapasan dan detak jantung pasien. Saat ini, turunan ketamin juga mulai ditemukan di klinik psikiater khusus sebagai terapi yang diawasi ketat untuk pasien depresi berat yang tidak mempan dengan obat biasa.
Namun jika disalah gunakandampaknya sangat brutal. Gejalanya meliputi keinginan buang air kecil yang terus-menerus, hilangnya kendali atas kandung kemih (inkontinensia), hingga kencing berdarah. Begitu parahnya dampak yang ditimbulkan, beberapa anak yang terdampak terpaksa harus menggunakan popok dewasa atau meletakkan ember untuk buang air kecil di sebelah ranjang mereka setiap malam.
“Kerusakan yang disebabkan oleh ketamin bisa sangat menghancurkan,” kata Harriet Corbett, konsultan urologi anak di Alder Hey Children’s NHS Foundation Trust.
“Obat ini bisa memengaruhi dinding kandung kemih, menyebabkan ulserasi dan fibrosis, serta efeknya bisa ireversibel (tidak dapat diubah). Anak-anak muda ini dapat mengalami nyeri kandung kemih kronis dan inkontinensia, dan pada kasus yang paling parah, mungkin memerlukan operasi besar atau dialisis (cuci darah),” tegasnya.
Bahkan, Corbett menambahkan bahwa para dokter kini menerima rujukan anak-anak dengan gejala kandung kemih yang disebabkan oleh penggunaan ketamin tanpa resep dalam jumlah yang terus meningkat.
Potret Kelam di Balik Diagnosis: Kemiskinan dan Trauma
The Guardian melaporkan analisis mendalam terhadap 60 pasien pertama di klinik hasil kerja sama peneliti Alder Hey dan Lancaster University ini membuka tabir sosiologis yang memilukan. Rata-rata pasien baru berusia 14 tahundengan rentang usia 13 hingga 15 tahun.
Sekitar dua pertiga dari mereka adalah perempuan, dan mayoritas hidup di kawasan prasejahtera atau daerah tertinggal, sebagaimana dicatat dalam laporan yang diterbitkan di jurnal medis Archives of Disease in Childhood.
Latar belakang medis dan psikologis mereka tak kalah miris. Dari 60 pasien tersebut, 16 anak mengidap autisme, ADHD, atau keduanya. Satu dari lima anak memiliki riwayat diasuh oleh sistem panti sosial negara, dan hampir tiga perempatnya (72 persen) pernah mengalami trauma emosional di masa kecil.
“Apa yang disoroti dari analisis tahun pertama ini adalah pentingnya memahami sosok anak muda di balik diagnosis tersebut,” ujar Corbett.
“Dengan melihat faktor-faktor seperti usia, tempat tinggal, latar belakang, dan pengalaman hidup mereka, kita bisa mulai membangun gambaran yang jauh lebih jelas tentang siapa yang terdampak dan bagaimana kita bisa memberikan dukungan terbaik bagi mereka. Masalah ini bisa dicegah. Memahami lebih jauh tentang anak-anak muda yang datang kepada kami adalah langkah penting untuk mencegah bahaya lebih lanjut.”
Prof Rachel Isba, konsultan kedokteran kesehatan masyarakat anak di Alder Hey yang juga profesor emerita di Lancaster University, memberikan sudut pandang struktural terhadap krisis ini.
“Salah satu hal terpenting dari pekerjaan ini adalah kami berusaha memahami gambaran yang lebih luas,” ungkap Isba. “Penggunaan ketamin tidak terjadi secara terisolasi, dan analisis kami membantu mengeksplorasi berbagai faktor yang mungkin terkait dengan anak-anak muda yang mengembangkan masalah kesehatan serius.”
Klinik di Alder Hey kini mengambil pendekatan “tanpa penghakiman” (non-judgmental) untuk memutus mata rantai kecanduan ini.
“Kami ingin memberi kaum muda ruang yang aman untuk menceritakan apa yang terjadi dalam hidup mereka dan bekerja sama dengan mereka untuk menyusun rencana menghentikan penggunaan ketamin dan mencegah kerusakan lebih lanjut,” pungkas Isba.

Tinggalkan Balasan