DIKSIMERDEKA.COM LONDON – Perang tidak lagi hanya terjadi di medan tempur. Kini, konflik global juga “diperdagangkan” di dunia digital. Sebuah investigasi media Inggris, The Guardian, mengungkap bagaimana ribuan orang bertaruh jutaan dolar untuk berbagai skenario perang melalui platform prediksi seperti Polymarket.

Fenomena ini berkembang pesat seiring meningkatnya ketegangan global, mulai dari perang di Ukraina hingga konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam ekosistem digital tersebut, perang berubah menjadi peluang keuntungan finansial.


Jutaan Dolar Dipertaruhkan

Angka yang beredar sangat besar. Lebih dari 500 ribu dolar dipasang hanya untuk memprediksi apakah Rusia akan merebut kota Kostyantynivka di Ukraina. Sementara itu, taruhan terkait konflik AS–Iran mencapai sekitar 280 juta dolar.

Tidak hanya itu, sekitar 7,5 juta dolar juga dipertaruhkan untuk memprediksi apakah Amerika Serikat akan melakukan invasi ke Iran.

Di balik layar, ribuan pengguna berkumpul dalam forum daring seperti Discord untuk berdiskusi, menganalisis situasi, dan mencari peluang.

“Semuanya bisa menjadi sangat buruk. Perang Dunia III bisa saja terjadi,” tulis salah satu pengguna yang ikut bertaruh.

Baca juga :  ITB STIKOM Bali Diminta Presentasikan Ekonomi Digital dalam Forum G20 Tahun 2022

Perang Jadi Komoditas

Investigasi The Guardian menunjukkan bahwa platform seperti Polymarket kini menyerupai kasino global.

Pengguna tidak hanya bertaruh pada hasil konflik, tetapi juga pada berbagai peristiwa lain—mulai dari kebijakan politik hingga pidato tokoh dunia.

Beberapa bahkan mencoba memanfaatkan celah informasi dan perbedaan data untuk meraih keuntungan.

Dalam satu kasus, para penjudi bahkan mencoba memengaruhi narasi publik. Seorang jurnalis Israel dilaporkan mendapat tekanan agar mengubah laporannya demi memengaruhi hasil taruhan.


Klaim “Sinyal Kebenaran”

Meski menuai kritik, Polymarket justru mengklaim dirinya sebagai sumber informasi alternatif.

Dalam pernyataannya, platform tersebut menyebut pasar prediksi dapat memberikan gambaran yang lebih akurat dibanding media tradisional.

“Pasar prediksi bisa memberikan jawaban dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh televisi atau media sosial,” tulis mereka.

Beberapa analis bahkan menilai platform ini mampu menjadi indikator cepat terhadap peristiwa global yang sulit diprediksi.


Kritik Keras Bermunculan

Namun, tidak semua pihak sepakat.

Institute for the Study of War (ISW), lembaga pemikir militer di Amerika Serikat, mengecam keras praktik ini.

Baca juga :  Dukung Hilirisasi Ekonomi Digital, Kominfo Targetkan Latih 50 Ribu Talenta Digital di Lima Kota

“Kami dengan tegas mengutuk dan tidak pernah menyetujui eksploitasi produk kami untuk tujuan menjijikkan seperti berjudi atas perang,” tegas juru bicara mereka.

Kritik juga datang dari kalangan politik. Sejumlah senator AS mulai mendorong regulasi terhadap platform semacam ini.


Dilema Moral

Bagi sebagian pengguna, praktik ini menimbulkan dilema etis.

Joseph Francia, salah satu pelaku, mengakui adanya sisi kelam dari taruhan perang.

“Tidak ada yang ingin menghasilkan uang dari perang atau kematian orang,” ujarnya.

Namun ia juga melihat manfaat tertentu.

“Dalam situasi perang, Anda tidak tahu mana yang propaganda dan mana yang benar. Dalam kondisi seperti itu, platform ini bisa menjadi rujukan,” tambahnya.


Risiko Manipulasi

Selain persoalan moral, muncul pula kekhawatiran tentang manipulasi.

Investigasi menemukan bahwa sejumlah pengguna mencoba memengaruhi data dan narasi demi memenangkan taruhan.

Sistem penentuan hasil pun menjadi sorotan.

Di Polymarket, hasil taruhan diputuskan oleh kelompok anonim pemegang token kripto bernama UMA. Namun, transparansi mereka dipertanyakan.

“Mekanismenya adalah Anda harus memilih keputusan yang benar, tapi sistem ini sering salah,” kata Ben Yorke, mantan peneliti Cointelegraph.

Baca juga :  Trump Beri Iran Waktu 10 Hari untuk Deal Nuklir, Armada Perang AS Bergerak

Ia menambahkan bahwa keputusan bisa dipengaruhi oleh segelintir pemegang token besar.


Dampak ke Pasar Global

Yang lebih mengkhawatirkan, data dari platform ini mulai digunakan oleh institusi besar.

Goldman Sachs disebut menggunakan data Polymarket dalam analisisnya. Bahkan bursa Nasdaq telah mengajukan rencana untuk menghadirkan instrumen serupa.

Hal ini membuka kemungkinan bahwa spekulasi individu dapat memengaruhi pasar finansial global.


Fenomena ini menunjukkan pergeseran besar dalam cara dunia melihat konflik.

Perang tidak lagi hanya menjadi tragedi kemanusiaan atau isu geopolitik, tetapi juga komoditas ekonomi.

Ketika perang dijadikan objek taruhan, batas antara realitas dan spekulasi menjadi semakin tipis.


Investigasi The Guardian membuka sisi gelap dari era digital: ketika konflik global berubah menjadi ajang spekulasi.

Di satu sisi, platform prediksi menawarkan cara baru memahami dunia. Namun di sisi lain, ia menimbulkan pertanyaan besar tentang etika dan dampaknya.

Di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas: perang kini tidak hanya diperjuangkan di medan tempur, tetapi juga dipertaruhkan di layar digital.