DIKSIMERDEKA.COM, MANGGARAI – Antonius Lesing, warga Desa Satar Ngkeling, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku bersyukur telah mendapat bantuan satu unit Hunian Sementara (Huntara) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) usai gempa bumi bermagnitudo 7,7 tanggal 15 Agustus 2026 lalu merobohkan rumah berlantai dua miliknya berukuran 6×8 plus 5×5

Kepada Wartawan Kamis 1 Oktober 2026, pria asal Kampung Ting ini mengaku bahwa Huntara yang ia dapat dari BNPB berukuran 4×6 dan saat ini sedang dalam progres pengerjaan oleh vendor dan beberapa tenaga lokal.

Meski sempat mengeluarkan duit pribadi untuk membangun infrastruktur tambahan, Antonius mengaku tetap bersyukur atas apa yang ia dapat.

“Secara pribadi saya tetap bersyukur dan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BNPB karena telah mendapat bantuan Huntara. Uang pribadi yang saya keluarkan itu murni atas dasar inisiatif untuk membangun infrastruktur tambahan” ucap Antonius.

Infrastruktur tambahan yang ia bangun melalui duit pribadi itu berupa tembok penahan, tepat di samping Huntaranya. Selama mengerjakan tembok penahan Antonius juga mengeluarkan tambahan duit pribadi untuk kebutuhan semen, batu, pasir dan pembiayaan tiga orang tukang.

Jumlah duit pribadi yang ia keluarkan itu kurang lebih mencapai Rp.3.000.000, total dari pengadaan material sampai pembiayaan tukang.

Meski demikian Antonius tidak menuntut terlalu jauh soal itu karena duit untuk membangun infrastruktur tambahan murni atas inisiatifnya sendiri.

“Saya tidak menuntut terlalu jauh soal itu. Intinya saya dan keluarga bersyukur karena sudah mendapat bantuan Huntara yang akan menjadi tempat kami berlindung sementara” ujar Antonius.

Sementara itu Hilarius Rifaldo Pandu selaku penyedia barang atau Vendor memastikan pembangunan Huntara di Desa Satar Ngkeling akan rampung secepatnya.

Dari total tujuh unit yang dibangun di Satar Ngkeling, dua diantaranya sudah rampung seratus persen, sedangkan lima lainnya masih dalam progres dan akan selesai dalam waktu dekat ini.

Hilarius menerangkan dari lima unit Huntara yang masih dalam progres itu ada beberapa item yang perlu dilengkapi lagi, yakni pemasangan dynabolt pada bagian bawah rangka baja untuk menopang beban berat sekaligus berfungsi untuk mengikat baja ringan ke struktur beton.

“Jadi item pembangunannya perlu dilengkapi lagi, yakni pemasangan dynabolt sesuai dengan petunjuk teknis dan RAB” kata Hilarius.

Terpisah, BNPB melalui keterangan tertulisnya mengklarifikasi kabar adanya warga di Kabupaten Manggarai, yakni Antonius Lesing yang mengeluarkan biaya tambahan dalam pembangunan huntara.

Menurut BNPB, hal ini terjadi karena warga penerima manfaat belum sepenuhnya memahami mekanisme dan spesifikasi yang ditetapkan.

Huntara dirancang murni sebagai tempat tinggal sementara yang aman dari risiko gempa, sehingga bentuk dan ukurannya tidak akan sama dengan rumah warga sebelum gempa.

Di samping itu, jika masyarakat menemukan adanya pungutan atau permintaan biaya tambahan pada proyek yang sudah sesuai standar, BNPB mengimbau warga untuk segera melapor kepada pemerintah daerah atau BNPB guna mencegah penyalahgunaan bantuan.

Langkah ini penting untuk mencegah terjadinya kerugian atau penyalahgunaan program bantuan pemerintah.

BNPB sebelumnya telah menyosialisasikan standar pembangunan ini kepada pemerintah daerah.

Huntara sejak awal dirancang sebagai tempat tinggal sementara, bukan untuk tinggal menetap. Bangunan tersebut disiapkan sebagai tempat tinggal masyarakat selama masa transisi sebelum proses rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pembangunan huntap, dapat diselesaikan.

Reporter: Berto Davids