Groundbreaking Pelabuhan Perikanan Pengambengan Rp1,2 Triliun, Jembrana Disiapkan Jadi Pusat Ekspor Ikan Premium
DIKSIMERDEKA.COM, JEMBRANA – Pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, resmi dimulai. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek senilai sekitar Rp1,2 triliun itu, Selasa (29/9/2026).
Hadir dalam kegiatan tersebut anggota Komisi IV DPR RI Nyoman Adi Wiryatama, Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, serta jajaran Forkopimda Jembrana.
Proyek bertajuk Integrated Fishing Port and Market Phase 1 ini dirancang sebagai pelabuhan perikanan modern terintegrasi. Selain tempat transaksi hasil laut, kawasan ini akan dilengkapi pasar ikan yang bersih dan area kuliner.
“Teman-teman nanti bisa membayangkan kalau pernah ke luar negeri melihat pelabuhan perikanan yang begitu bersih, bagus, ekonominya berjalan dengan baik. Kita juga akan melakukan hal yang sama di sini,” kata Sakti.
Ia menegaskan kawasan pelabuhan tidak akan lagi identik dengan bau dan lingkungan yang semrawut. “Tidak ada lagi yang bau. Semuanya tertata dengan baik,” ujarnya.
Satu dari Empat Pelabuhan Percontohan
Pengambengan merupakan satu dari empat pelabuhan yang akan ditingkatkan menjadi pelabuhan modern berkonsep pasar ikan internasional. Tiga lainnya adalah Pelabuhan Kejawanan di Cirebon, yang sudah lebih dulu dibangun dengan nilai sekitar Rp400 miliar, serta Cilacap dan Bitung.
Menurut Sakti, investasi di Jembrana lebih besar karena disesuaikan dengan jumlah kapal yang akan dilayani dan letaknya yang dekat dengan wilayah tangkapan bernilai ekonomi tinggi.
“Di sini besar, sekitar Rp1,2 triliun. Karena di depan itu ada WPP 718 yang banyak sekali tuna sirip biru di sana,” ungkapnya.
Pelabuhan ini diharapkan menjadi pusat pengelolaan ikan premium yang langsung berorientasi ekspor. Keempat pelabuhan akan dievaluasi lebih dulu sebelum model serupa dikembangkan ke lokasi lain.
“Kalau dari empat titik itu sudah kita bangun, kita akan monitor. Kalau modeling-nya sudah berhasil dengan baik, kemudian kita kembangkan yang lain,” katanya.
Kapal Industri Ditata, Nelayan Kecil Diberi Ruang
Dalam kesempatan itu, Sakti juga menyinggung penataan kapal perikanan di kawasan Benoa. Ia menegaskan kapal industri yang beroperasi di Bali wajib mengikuti ketentuan perizinan dan lokasi yang telah ditetapkan.
“Itu izin penangkapan ikan saya yang mengeluarkan izin. Saya tidak keluarkan izinnya kalau mereka enggak dari sini. Itu saja intinya,” tegasnya.
Menurut dia, Benoa merupakan kawasan pariwisata, sehingga fungsinya perlu dipisahkan dari aktivitas perikanan industri, seperti yang lazim dilakukan di banyak negara. “Kalau kemudian dicampur juga dengan ikan, bagaimana pariwisata Bali masa depannya?” ujarnya.
Nelayan kecil tetap mendapat tempat. Kapal di bawah 30 gross tonnage (GT) diarahkan ke kawasan yang telah disiapkan. Sementara itu, nelayan yang melaut di bawah 12 mil dengan pola tangkap harian (one-day fishing) akan difasilitasi melalui program Kampung Nelayan.
Koster: Harapan Lama Masyarakat Bali
Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik pembangunan tersebut, yang menurutnya sudah lama dinantikan pemerintah daerah dan masyarakat.
“Ini merupakan program yang akan menangani kelautan dan perikanan dari hulu sampai hilir, dan akan menjadi pusat perekonomian baru di Kabupaten Jembrana dan berdampak kepada Bali secara keseluruhan maupun juga luar Bali,” kata Koster.

Tinggalkan Balasan