DIKSIMERDEKA.COM SEPUTIH RAMAN – Garis nasib tidak pernah ditulis dalam semalam. Bagi Komang Koheri, posisinya saat ini sebagai orang nomor satu di Kabupaten Lampung Tengah adalah buah dari keberanian panjang yang diwariskan sang ayah puluhan tahun silam.

Kisah Komang Koheri tidak bisa dilepaskan dari sejarah eksodus keluarga Bali yang memilih meninggalkan tanah leluhur untuk membangun kehidupan baru di tanah transmigrasi. Semua bermula pada tahun 1952. Kala itu, sang ayah, I Made Linteb, yang masih duduk di bangku kelas II SMA, nekat merantau meninggalkan Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, menuju Lampung Tengah. Misinya hanya satu: mengubah nasib dan berharap keturunannya kelak hidup lebih maju.

Dua dekade setelah sang ayah merintis hidup di tanah harapan, harapan itu perlahan mewujud. Komang Koheri lahir pada 25 November 1972 di Seputih Raman. Sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara buah pernikahan I Made Linteb dan Ni Made Sasih, Koheri tidak tumbuh di menara gading.

Di Kampung Rama Dewa, tempatnya dibesarkan, Koheri ditempa oleh kerasnya kehidupan. Sebelum dikenal sebagai politisi kawakan, ia adalah seorang pengusaha yang merangkak dari bawah.

Menurut Koheri, sapaan akrabnya, dirinya menekuni dunia usaha sejak duduk di bangku perguruan tinggi. Sambil menempuh pendidikan di Jurusan Manajemen STIE Lampung (lulus 1996), ia tak gengsi berdagang beras. Sebagai pedagang, tentu saja dia pernah mengalami pahit dan getirnya berbisnis. Pengalaman lapangan ini kelak membentuk insting kritisnya saat mengambil kebijakan.

Menapaki Tangga Politik, Dari Kampung Rama Dewa ke Senayan

Darah perantau membuat Koheri luwes bergaul. Identitas Balinya tak pernah pudar, justru menjadi pilar modal sosial. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat Bali di Lampung dan pernah didapuk sebagai Ketua Paguyuban Bali Lampung.

Di ranah politik, suami dari Ni Ketut Dewi Nadi ini memilih jalur banteng moncong putih. Di PDI Perjuangan, karirnya berjenjang. Mulai dari Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lampung Tengah hingga menjadi Sekretaris Taruna Merah Putih di wilayah tersebut.

Karier legislatifnya bukan rekam jejak sembarangan. Ia sukses melenggang ke DPRD Provinsi Lampung selama dua periode berturut-turut (2009-2014 dan 2014-2019). Puncak karir parlementernya terjadi saat ia dipercaya mewakili daerah pemilihan Lampung II di kursi DPR RI periode 2019-2024.

Turbulensi Kekuasaan dan Mandat Memimpin Lampung Tengah

Namun, godaan panggung eksekutif memanggilnya pulang. Pada Pilkada Lampung Tengah 2024, ayah dari Luh Tasya Saraswati dan Komang Raja Seva Mayday ini memutuskan turun gunung. Maju sebagai calon wakil bupati mendampingi Ardito Wijaya, pasangan ini sukses mendulang 369.974 suara (63,71 persen suara sah), dan dilantik untuk memimpin periode 2025-2030.

Sayangnya, roda birokrasi tak melulu berjalan mulus. Turbulensi politik menghantam pada Desember 2025. Ardito Wijaya diberhentikan sementara akibat proses hukum yang membelitnya. Situasi krisis ini memaksa Koheri maju ke garis depan. Ia mendapat penugasan krusial sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Tengah untuk memastikan mesin pelayanan publik tak mati mesin.

Mandat tersebut dilegitimasi kuat melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 100.2.1.3-970 Tahun 2026. Puncaknya, pada 23 Juni 2026, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal secara resmi menyerahkan SK Mendagri tersebut kepada Koheri.

Kini, hingga September 2026, Koheri membuktikan bahwa ia mampu memegang kemudi. Ia terus bergerilya menghadiri berbagai agenda krusial pemerintah daerah, termasuk memimpin agenda pengawasan pemerintahan pada 15 September 2026.

Perjalanan I Komang Koheri adalah epos tentang anak transmigran yang membuktikan bahwa keringat dan doa di tanah rantau tidak pernah mengkhianati hasil. Cita-citanya tetap tajam dan membumi, sebagaimana harapannya yang tak pernah berubah sejak ia bertarung di panggung nasional beberapa tahun silam:

“Semoga apa yang menjadi perjuangan dari para pendukungnya di Pileg 2019 dapat terwujud. Sehingga, suara dan aspirasi masyarakat Lamteng khususnya bisa tersampaikan di pemerintah pusat.”

Kini, aspirasi itu tak cuma ia sampaikan, tapi ia eksekusi langsung dari kursi kepemimpinan tertinggi di Lampung Tengah. dan begitulah hidup putra transmigran bali di Bumi Ruwa Jurai.
( Diambil dari berbagai sumber)