Tragedi Abyei: Pasar Dibombardir Drone di Siang Bolong, 153 Nyawa Melayang
DIKSIMERDEKA.COM JUBA Ngeri! Sebuah tragedi berdarah baru saja mengguncang Abyei, wilayah perbatasan yang terus jadi rebutan antara Sudan dan Sudan Selatan. Sebuah serangan drone (pesawat tak berawak) secara membabi buta menghantam area Pasar Amiet pada Senin (19/10) waktu setempat. Nahasnya, gempuran udara itu tepat mengenai depo bahan bakar minyak (BBM) di sekitar lokasi.
Ledakan dahsyat pun tak terhindarkan. Setidaknya 153 orang tewas meregang nyawa akibat terpanggang kobaran api raksasa yang bahkan masih menyala hingga Selasa (20/10/2026). Dilansir dari AP.
Yohanna Akol Ngor, Penjabat Menteri Penerangan Administrasi Abyei, tak ragu menunjuk hidung militer Sudan sebagai dalang di balik serangan maut di utara kota Abyei tersebut.
“Kami telah mencatat 153 korban ,” tegas Ngor kepada Associated Press melalui sambungan telepon pada hari Selasa.
Ia menambahkan dengan nada getir bahwa jumlah korban jiwa dipastikan terus merangkak naik karena api masih terus berkobar. Serangan itu sendiri terjadi sekitar pukul 11 pagi, menyasar depo BBM yang selama ini menjadi urat nadi bisnis warga setempat. “Ini adalah situasi yang mengerikan dan mengejutkan,” ujarnya.
Militer Sudan Cuci Tangan, Berdalih Incar Penyelundup BBM Pasukan RSF
Mendapat tudingan miring, pihak militer Sudan langsung membela diri. Seorang perwira tinggi militer Sudan yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa tentaranya memang melancarkan serangan drone pada Senin lalu. Namun, ia berdalih target mereka bukanlah warga sipil.
Menurut sang perwira, serangan itu membidik truk-truk tangki BBM dari Sudan Selatan yang diyakini sedang menyelundupkan pasokan untuk pasukan paramiliter musuh mereka, Rapid Support Forces (RSF).
“Kami tidak menargetkan warga sipil,” kilahnya seraya menyebut bahwa korban tewas adalah anggota RSF dan para mafia penyelundup BBM. Ia juga mengklaim serangan itu dilakukan di luar zona demiliterisasi di sepanjang perbatasan.
Namun, Kementerian Luar Negeri Sudan Selatan murka. Mereka menyalahkan militer Sudan karena serangan itu menghantam berbagai titik di dalam pasar, memicu jatuhnya korban sipil yang tak berdosa, dan menghancurkan properti warga. Sebagai bentuk protes keras, Juba langsung memanggil duta besar Sudan dan mendesak Khartoum untuk “menahan diri dari tindakan apa pun yang membahayakan nyawa dan harta benda warga sipil.”
Ratusan Luka Bakar dan Nasib Abyei yang Terkatung-katung
Kepanikan luar biasa terjadi di rumah sakit setempat. Organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) melaporkan puluhan korban luka-luka dilarikan ke Rumah Sakit Ameth Bek. Di sana, tim MSF harus berjibaku bersama staf Kementerian Kesehatan Sudan Selatan untuk menyelamatkan nyawa para korban.
“Sejauh ini kami telah menerima lebih dari 20 pasien, termasuk beberapa kasus kritis. Pasien dengan luka bakar juga telah dirawat,” ungkap Dr. Christian Lindauer, Manajer Aktivitas Medis MSF di rumah sakit tersebut. MSF pun mendesak semua pihak yang bertikai agar stop menjadikan warga dan fasilitas sipil sebagai arena pembantaian.
Tragedi ini seakan menambah panjang daftar penderitaan di Abyei. Wilayah kaya minyak ini nasibnya dibiarkan menggantung sejak perjanjian damai 2005 dan usai Sudan Selatan merdeka pada 2011. Rencana referendum buntu gegara kubu suku Ngok Dinka (mayoritas) ingin bergabung dengan Sudan Selatan, sementara kaum nomaden Misseriya ngotot ingin ikut Sudan. Belum lagi ditambah perang saudara yang pecah antara militer Sudan dan paramiliter RSF sejak April 2023, yang kini percikan apinya ikut membakar habis nyawa rakyat sipil di perbatasan.

Tinggalkan Balasan