Ekstrak Kayu Raru Turunkan Gula Darah 21%, Riset BRIN Buka Harapan Baru Obat Diabetes
DIKSIMERDEKA.COM,JAKARTA – Diabetes masih menjadi tantangan kesehatan global. Hampir setengah miliar orang di dunia hidup dengan penyakit ini, dan sebagian besar belum terdiagnosis. Di Indonesia, angka kasus juga terus meningkat. Karena itu, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan alternatif pengobatan alami berbasis kekayaan hayati nusantara, yakni kayu raru (Vatica perakensis).
Kayu raru telah lama dikenal masyarakat Batak sebagai campuran minuman tradisional tuak. Selain memberi cita rasa khas, kayu ini dipercaya membantu menurunkan kadar gula darah. Berangkat dari kearifan lokal tersebut, tim peneliti BRIN menguji secara ilmiah potensi antidiabetes ekstrak kulit kayu raru.
Hambat Enzim Pemicu Lonjakan Gula
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Agus Ismanto, menjelaskan bahwa ekstrak kayu raru memiliki sifat antioksidan dan berpotensi menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase. Enzim ini berperan dalam memecah karbohidrat menjadi glukosa di dalam tubuh.
“Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak kulit kayu raru kami kombinasikan dengan karbon aktif berbahan dasar mocaf (tepung singkong termodifikasi) yang berfungsi sebagai carrier zat aktif,” ujar Agus, Senin (23/2).
Karbon aktif tersebut diproduksi melalui proses pemanasan khusus hingga membentuk struktur berpori halus. Struktur ini diharapkan mampu membawa dan melepaskan senyawa aktif raru lebih efektif di dalam tubuh.
Uji Praklinis pada Tikus Diabetes
Penelitian bertajuk Efek Antidiabetik Ekstrak Kulit Kayu Raru (Vatica perakensis) dan Karbon Aktif Mocaf pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin dilakukan pada tikus jantan yang diinduksi menjadi diabetes.
Hewan uji dibagi dalam beberapa kelompok, yakni kelompok kontrol, kelompok ekstrak raru tunggal, serta kelompok kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif dengan rasio berbeda.
Hasilnya cukup menjanjikan. Ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah sebesar 21,94 persen. Sementara kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif menunjukkan penurunan 18,85 persen pada rasio 75:25 dan 14,97 persen pada rasio 50:50.
Meski demikian, penambahan karbon aktif belum memberikan peningkatan efektivitas signifikan dibandingkan ekstrak raru tunggal.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan ekstrak raru mampu menghambat enzim alfa-glukosidase secara in vitro hingga lebih dari 90 persen. Efek ini diduga berasal dari kandungan senyawa fenolik di dalamnya.
Masih Perlu Uji Lanjut
Agus menegaskan, riset ini masih berada pada tahap praklinis. Analisis farmakokinetik, mekanisme kerja rinci, serta aspek keamanan penggunaan masih harus dikaji sebelum masuk tahap uji klinis pada manusia.
“Ke depan, kami akan melakukan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif dan mengoptimalkan sistem penghantaran zat aktif,” jelasnya.
Melalui riset ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam mengembangkan solusi kesehatan berbasis biodiversitas Indonesia. Kayu raru menjadi contoh bagaimana kearifan lokal bisa diangkat menjadi inovasi herbal berbasis sains.
Jika penelitian lanjutan berhasil, bukan tak mungkin kayu raru menjadi kandidat fitofarmaka baru untuk membantu pengelolaan diabetes di masa depan.

Tinggalkan Balasan