Anak Putri Mahkota Norwegia Diadili,4 Dakwaan Pemerkosaan, Istana Terseret Skandal
DIKSIMERDEKA.COM, OSLO-Kalau rakyat biasa tersandung kasus pemerkosaan, urusannya jelas: polisi, jaksa, penjara. Tapi kali ini, yang duduk di kursi terdakwa bukan orang sembarangan.
Polisi Norwegia menyebut ada dugaan kuat anak Putri Mahkota Norwegia, Marius Borg Høiby (29), melakukan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan dalam afterparty di kediaman kerajaan seperti laporan The Guardian, Selasa malam 3 Februari 2026.
Selasa (hari pertama persidangan), Høiby membantah keras. Ia menyatakan tidak bersalah atas empat dakwaan pemerkosaan. Sidang ini berubah jadi sorotan nasional, bukan cuma karena nama besar keluarga kerajaan, tapi karena publik dipaksa menatap fakta pahit: kekerasan seksual bisa terjadi bahkan di lingkungan “keramat” bernama istana.
Di ruang sidang Pengadilan Distrik Oslo yang penuh, Høiby juga menyangkal tuduhan lain: kekerasan dalam hubungan dekat, hingga merekam alat kelamin perempuan tanpa sepengetahuan korban. Satu per satu, daftar dakwaan itu menjadi tamparan bagi citra kerajaan.
Kasus ini datang di momen terburuk bagi keluarga kerajaan Norwegia. Sebab, ibu Høiby, Putri Mahkota Mette-Marit, juga sedang disorot,terkait relasinya dengan mendiang pelaku kejahatan seksual anak Jeffrey Epstein. Publik pun bertanya: ini keluarga kerajaan atau keluarga yang terus didatangi skandal?
Korban pertama bersaksi dari ruang terpisah. Ia mengaku hadir di pesta di Skaugum, kediaman resmi ayah tiri Høiby Putra Mahkota Norwegiapada 2018. Identitasnya dirahasiakan sesuai perintah pengadilan.
Korban mengatakan sempat terjadi hubungan seksual singkat setelah Høiby mengikutinya ke toilet. Namun ia mengaku langsung menghentikannya dan kembali ke pesta. Setelah itu, katanya, ia tidak ingat apa yang terjadi.
Yang bikin merinding, polisi mendatanginya belakangan dan menyampaikan temuan video di komputer Høiby. Video itu disebut diduga memperlihatkan Høiby meraba korban saat korban tergeletak di sofa dan tidak dalam posisi bisa menolak. Dalam hukum Norwegia, pemerkosaan bisa dianggap terjadi dengan atau tanpa hubungan seksual.
Saat jaksa penuntut Sturla Henriksbø bertanya bagaimana perasaannya hadir di sidang, korban menjawab getir:
“Ini hal terakhir yang saya inginkan.”
“Pengalaman ini sangat tidak nyaman.”
“Tidak adil saya terseret ke dalam ini.”
“Saya duduk di sini sambil gemetar.”
Jaksa menegaskan ini perkara hukum, bukan perkara garis keturunan.
“Terdakwa adalah anak Putri Mahkota. Dia bagian dari keluarga kerajaan.”
“Dia tetap harus diperlakukan sama seperti siapa pun yang didakwa dengan pelanggaran yang sama.”
“Dia tidak boleh diperlakukan lebih berat atau lebih ringan karena hubungan keluarganya.”
Jaksa juga menekankan, penuntutan bukan soal korban minta atau tidak, tapi soal tanggung jawab publik.
“Tidak ada syarat permintaan penuntutan dari korban.”
“Adalah tanggung jawab masyarakat untuk menuntut kejahatan serius, terlepas korban sendiri menginginkannya atau tidak.”
“Dalam beberapa kasus, bukan korban yang datang ke polisi dan berkata: ‘Saya mengalami sesuatu yang kriminal’.”
Dari sisi pembela, pengacara Ellen Holager Andenæs menampilkan nada yang sama kerasnya: kliennya tidak bersalah.
“Titik awalnya harus bahwa Marius tidak bersalah.”
Ia meminta pengadilan tidak terpengaruh opini luar.
“Sekarang perkara ini dipertimbangkan di ruang sidang, semua informasi dan kebisingan dari luar sepenuhnya tidak relevan.”
“Hanya apa yang muncul di sini yang memiliki bobot.”
Pembela juga menyebut para korban pernah melakukan hubungan seksual suka sama suka sebelum kejadian yang didakwakan.
“Saya tidak menuduh korban berbohong tentang pengalaman mereka.”
“Namun semua korban memiliki kesamaan: mereka melakukan hubungan seksual sukarela dengan Marius sebelum situasi yang dijelaskan dalam dakwaan.”
Ia menambahkan, lingkungan pergaulan terdakwa disebut penuh penyalahgunaan zat.
“Ini lingkungan dengan banyak penyalahgunaan zat.”
“Bukan hanya alkohol, tetapi juga zat ilegal seperti kokain dan lainnya.”
“Dan bukan rahasia bahwa seks adalah bagian besar dari apa yang terjadi di lingkungan tersebut.”
Namun korban membantah isu mabuk berat. Ia mengatakan malam itu hanya minum sedikit.
“Saya minum anggur merah dan beberapa minuman, tapi tidak lebih dari itu.”
Høiby ditangkap Minggu dan ditahan terkait dakwaan baru: penganiayaan, ancaman dengan pisau, dan pelanggaran perintah larangan mendekat. Total ia menghadapi 38 dakwaan.
Sidang diperkirakan berjalan tujuh minggu, diadili oleh panel tiga hakim.
Di tengah skandal yang membakar keluarga kerajaan, monarki Norwegia masih bertahan. Usulan penghapusan monarki yang diajukan kelompok republik kembali ditolak parlemen.
Namun satu hal sudah telanjur terjadi: sidang ini membuat publik mengingat lagi pelajaran paling penting—tidak ada tembok istana yang cukup tinggi untuk menutup jeritan korban.

Tinggalkan Balasan