Laporan Jurnalis CNN’s Natasha Bertrand, Kevin Liptak, Todd Symans, Issy Ronald, dan Madalena Araujo,

DIKSIMERDEKA.COM, GREENLANDPernyataan Donald Trump kembali bikin geger panggung geopolitik dunia. Dalam wawancara dengan Fox News, Kamis 22 Januari 2026 lalu, Presiden Amerika Serikat itu melontarkan klaim yang dinilai ngawur: pasukan NATO disebutnya hanya “sedikit menjauh dari garis depan” selama perang Afghanistan,” kata Trump.

Ucapan itu langsung memantik kemarahan sekutu-sekutu Washington. Bukan tanpa alasan. Lebih dari 1.000 prajurit negara-negara NATO tewas dalam konflik Afghanistan,angka yang tak bisa diabaikan begitu saja dengan retorika politik.

Api makin membesar setelah Trump, dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, menuding negara-negara NATO tidak akan membela Amerika Serikat jika diserang. Ia bahkan menambahkan kalimat pedas: “what we have gotten out of NATO is nothing.”

Reaksi pun datang bertubi-tubi. Media sosial berubah menjadi medan perlawanan simbolik. Para tentara Eropa, baik yang aktif maupun veteran—mengunggah foto dan kesaksian mereka saat bertugas di Timur Tengah dan Afghanistan.

“Here’s me a Norwegian soldier doing nothing for America in Afghanistan 2007 and 2012,” tulis seorang prajurit Norwegia di Reddit, lengkap dengan foto dirinya dalam posisi menembak. Norwegia, seperti banyak sekutu NATO lainnya, terlibat secara sipil dan militer di Afghanistan sejak 2001 hingga 2021.

Tak lama berselang, unggahan serupa muncul dari mereka yang mengaku pernah bertugas untuk Jerman, Belanda, dan Inggris.

Seorang tentara Kanada juga ikut bersuara. Ia mengunggah fotonya berseragam militer dengan keterangan: “Here’s me a Canadian soldier doing nothing for America in Afghanistan 2008.” Kanada sendiri mengirim lebih dari 40.000 personel ke Afghanistan selama lebih dari satu dekade, dengan 158 di antaranya gugur.

Nada kekecewaan bahkan terdengar lebih personal. Kepada media Denmark TV2, veteran asal Greenland, Kununguak Iversen, mengaku merasa “a bit backstabbed( ditusuk dari belakang” oleh perilaku pemerintahan Trump. Ia pernah dikerahkan ke Irak pada 2006 sebagai bagian dari koalisi pimpinan AS.

“It’s about the fact that we picked up the phone when they called. The fact that they then treat us the way they are doing now is not okay,” kata Iversen kepada TV2 awal bulan ini.

Greenland Masih Jadi Teka-teki

Di tengah ketegangan itu, para pemimpin Uni Eropa menggelar KTT darurat untuk membahas ancaman Trump terkait Greenland. Wakil Perdana Menteri Swedia, Ebba Busch, bahkan memperingatkan CNN: “We’re not out of the woods.”

Namun hingga kini, detail kesepakatan kerangka soal Greenland masih kabur. Trump dan Sekjen NATO Mark Rutte memang mencapai kesepahaman lisan pada Rabu lalu, tetapi belum ada dokumen resmi yang merinci arah kesepakatan tersebut, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan itu.

Keduanya sepakat melanjutkan diskusi untuk memperbarui perjanjian tahun 1951 antara AS, Denmark, dan Greenland yang mengatur keberadaan militer AS di pulau tersebut. Kerangka itu juga disebut menjamin Rusia dan China dilarang berinvestasi di Greenland, serta memperkuat peran NATO di kawasan tersebut.

Seorang pejabat NATO mengatakan kepada CNN bahwa salah satu usulan yang mengemuka adalah kemungkinan Denmark mengizinkan Amerika Serikat membangun lebih banyak pangkalan militer di Greenland, bahkan menjadikan wilayah tertentu sebagai teritori berdaulat AS.

“Tidak jelas apakah proposal itu akan menjadi bagian dari kerangka yang disinggung Presiden AS Donald Trump pada Rabu lalu ketika ia menarik mundur ancaman tarifnya setelah bertemu Rutte, tetapi secara garis besar, peningkatan kehadiran militer AS di Greenland telah menjadi benang merah dalam diskusi,” ujar pejabat tersebut.

Saat ini, AS telah memiliki satu pangkalan di barat laut Greenland, Pituffik Space Base, yang berdiri berdasarkan perjanjian pertahanan 1951—diperbarui pada 1981 dan ditandatangani ulang pada 2004. Pada era Perang Dingin, kehadiran militer AS di Greenland jauh lebih besar, namun sebagian besar pangkalan ditutup seiring meredanya ancaman global.

Kini, di bawah bayang-bayang politik Trump, Greenland kembali menjadi bidak panas di papan catur geopolitik dunia.(CNN/ Diksimerdeka)