Breaking News : KSAL Benarkan 23 Anggota Marinir TNI AL Tertimbun Longsor Bandung Barat
atihan Pra-Tugas Berujung Tragedi
DIKSIMERDEKA.COM, BANDUNG-Sebanyak 23 Anggota Marinir TNI AL menjadi korban longsor Cisarua saat sedang sedang menjalani latihan pratugas menjelang penugasan pengamanan perbatasan RI–Papua Nugini (PNG). begitu yang disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut (KSALdalamkonferensi pers.
atihan Pra-Tugas Berujung Tragedi
Longsor Cisarua menimpa prajurit Marinir yang sedang menjalani latihan pratugas menjelang penugasan pengamanan perbatasan RI–Papua Nugini (PNG). Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan, 23 prajurit Korps Marinir itu tengah dipersiapkan secara intensif sebelum diberangkatkan ke wilayah rawan di Papua.
Namun, hujan lebat yang turun hampir dua malam berturut-turut mengubah skenario latihan menjadi bencana. Tanah labil di kawasan Cisarua, Bandung Barat, akhirnya runtuh dan menimpa lokasi latihan yang berada di sekitar permukiman warga.”
Empat Marinir Gugur, Pencarian Masih Berjalan
KSAL Muhammad Ali menyampaikan, dari total 23 prajurit yang tertimbun, empat personel telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, belasan lainnya masih dalam proses pencarian.” kami terus melakukan pencarian menggunakan teknologi seperti drone dan anjing pelacak,” terangnya,
Di sisi lain, upaya evakuasi belum berjalan optimal. Cuaca ekstrem serta akses jalan yang terputus membuat alat berat sulit menjangkau titik longsor. Akibatnya, pencarian harus dilakukan secara bertahap dengan pengamanan ketat.
Operasi SAR Hadapi Medan Ekstrem
Tim SAR gabungan mencatat, hingga Senin siang, total 29 jenazah korban longsor telah dievakuasi dan diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI). Dari jumlah tersebut, 17 korban berhasil diidentifikasi dan telah diserahkan kepada keluarga.
Menurut Kepala Basarnas Mohammad Syafii, skala bencana ini tergolong besar dan kompleks. Panjang lidah longsor diperkirakan mencapai 2.009 meter dengan lebar sekitar 140 meter. Karena itu, longsor Cisarua timpa prajurit Marinir menjadi salah satu operasi pencarian paling menantang di Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Dukungan Udara dan Alat Berat Dikerahkan
Untuk mempercepat proses pencarian, tim SAR mengerahkan sembilan alat berat di beberapa titik krusial. Selain itu, operasi udara juga diperkuat dengan tiga helikopter milik TNI AU, TNI AD, dan TNI AL, serta pemanfaatan drone untuk pemetaan area sulit.
Meski begitu, keselamatan personel tetap menjadi prioritas. Setiap pergerakan di lapangan terus dievaluasi menyesuaikan kondisi cuaca dan stabilitas tanah.
Status Tanggap Darurat Diperpanjang
Basarnas menyebut evaluasi operasi SAR akan dilakukan pada hari ketujuh. Namun, pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan. Keputusan ini dinilai penting mengingat potensi longsor susulan masih tinggi.
Tragedi longsor Cisarua timpa prajurit Marinir sekaligus menjadi peringatan keras tentang risiko latihan militer di tengah cuaca ekstrem. Evaluasi lokasi dan mitigasi bencana dipastikan menjadi perhatian serius ke depan.
dalamkonferensi pers, Senin 26 Januari 2026.Ia menegaskan, 23 prajurit Korps Marinir itu tengah dipersiapkan secara intensif sebelum diberangkatkan ke wilayah Papua.
Namun, hujan lebat yang turun hampir dua malam berturut-turut mengubah skenario latihan menjadi bencana. Tanah labil di kawasan Cisarua, Bandung Barat, akhirnya runtuh dan menimpa lokasi latihan yang berada di sekitar permukiman warga.
Empat Marinir Gugur, Pencarian Masih Berjalan
KSAL Muhammad Ali menyampaikan, dari total 23 prajurit yang tertimbun, empat personel telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, belasan lainnya masih dalam proses pencarian.
Di sisi lain, upaya evakuasi belum berjalan optimal. Cuaca ekstrem serta akses jalan yang terputus membuat alat berat sulit menjangkau titik longsor. “Akibatnya, pencarian harus dilakukan secara bertahap dengan pengamanan ketat,” kata KSAL.
Operasi SAR Hadapi Medan Ekstrem
Tim SAR gabungan mencatat, hingga Senin siang, total 29 jenazah korban longsor telah dievakuasi dan diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI). Dari jumlah tersebut, 17 korban berhasil diidentifikasi dan telah diserahkan kepada keluarga.
Menurut Kepala Basarnas Mohammad Syafii, skala bencana ini tergolong besar dan kompleks. “Panjang lidah longsor diperkirakan mencapai 2.009 meter dengan lebar sekitar 140 meter. Karena itu, longsor Cisarua timpa prajurit Marinir menjadi salah satu operasi pencarian paling menantang di Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya
Dukungan Udara dan Alat Berat Dikerahkan
Untuk mempercepat proses pencarian, tim SAR mengerahkan sembilan alat berat di beberapa titik krusial. Selain itu, operasi udara juga diperkuat dengan tiga helikopter milik TNI AU, TNI AD, dan TNI AL, serta pemanfaatan drone untuk pemetaan area sulit.
Meski begitu, keselamatan personel tetap menjadi prioritas. Setiap pergerakan di lapangan terus dievaluasi menyesuaikan kondisi cuaca dan stabilitas tanah.
Status Tanggap Darurat Diperpanjang
Basarnas menyebut evaluasi operasi SAR akan dilakukan pada hari ketujuh. Namun, pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan. Keputusan ini dinilai penting mengingat potensi longsor susulan masih tinggi.
Tragedi longsor Cisarua timpa prajurit Marinir sekaligus menjadi peringatan keras tentang risiko latihan militer di tengah cuaca ekstrem. Evaluasi lokasi dan mitigasi bencana dipastikan menjadi perhatian serius ke depan.

Tinggalkan Balasan