BANDUNG BARAT – Longsor Pasirlangu Bandung Barat kembali menelanjangi satu fakta pahit: alam tak pernah bohong, manusia yang sering bandel. Bencana gerakan tanah yang menghantam Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Jumat (24/1), bukan sekadar musibah. Sebaliknya, peristiwa ini menjadi alarm keras atas buruknya pengelolaan lereng dan lemahnya disiplin tata ruang. Longsor Pasirlangu Bandung Barat kini menyisakan ancaman lanjutan, terutama saat hujan masih rajin mengguyur.

Badan Geologi Kementerian ESDM langsung angkat suara. Mereka menegaskan potensi longsor susulan masih mengintai. Terlebih, hujan berintensitas tinggi dengan durasi panjang masih menjadi menu rutin wilayah ini. Maka dari itu, kewaspadaan mutlak .

Hujan Cuma Pemantik, Kerusakan Lereng Biang Keladi

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan hujan hanyalah pemicu. Namun, masalah sesungguhnya jauh lebih dalam. Curah hujan tinggi meningkatkan tekanan air pori tanah, lalu melemahkan daya ikat lereng hingga akhirnya kolaps. Singkatnya, lereng sudah rapuh, hujan tinggal mendorong.

Lebih jauh, kondisi geologi Pasirlangu memang rawan sejak awal. Kawasan ini didominasi batuan gunungapi tua yang telah lapuk, lereng curam, serta rekahan dan sesar aktif. Artinya, Longsor Pasirlangu Bandung Barat bukan kejutan, melainkan bom waktu yang akhirnya meledak.

Zona Rawan, Tapi Tetap Dipaksa Dihuni

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah terdampak masuk kategori kerentanan menengah. Namun jangan salah tafsir. Zona “menengah” bukan berarti aman. Justru, saat lereng dipotong untuk rumah dan jalan, risiko melonjak tajam.

Masalahnya, aktivitas manusia ikut mempercepat kehancuran. Pemotongan lereng sembarangan, drainase yang amburadul, dan pembiaran bangunan berdiri di area rawan membuat Longsor Pasirlangu Bandung Barat terasa seperti tragedi yang disengaja.

Respons Darurat: Bergerak Cepat, Tapi Jangan Sekadar Tambal Sulam

Pasca longsor, Badan Geologi mengirim Tim Tanggap Darurat ke lokasi. Pemeriksaan lapangan dilakukan di area terdampak seluas sekitar 30 hektare. Tujuannya jelas: mengurai penyebab dan menyusun rekomendasi teknis.

Kepala PVMBG, Hadi Wijaya, menyatakan tim beranggotakan 10 orang itu juga bertugas menyosialisasikan kondisi bahaya ke warga. Namun, publik tentu berharap langkah ini tak berhenti di laporan meja. Jika tidak, Longsor Pasirlangu Bandung Barat hanya akan tercatat sebagai episode awal dari bencana berikutnya.

Warga Diminta Mengungsi, Petugas Diminta Waspada

Badan Geologi mengimbau warga yang tinggal di sekitar lereng curam segera mengungsi. Wilayah ini padat permukiman dan aktivitas lahan tinggi—kombinasi maut saat hujan turun deras.

Selain itu, keselamatan petugas menjadi sorotan. Penanganan longsor dan pencarian korban diminta dihentikan saat hujan turun. Sebab, ancaman longsor susulan masih sangat nyata. Pesannya tegas: jangan tambah korban karena abai membaca tanda alam.