ePmilu Uganda tahun ini dalam suasana tegang. Negara Afrika Timur itu bersiap memilih presiden, namun hasilnya telah terprediksi nyaris pasti: Yoweri Museveni memperpanjang kekuasaannya yang sudah mendekati empat dekade. Kampanye yang ternodai aksi kekerasan membuat pemilihan kali ini jauh dari kata normal.

Sejak masa kampanye dimulai, aparat keamanan berulang kali membubarkan kegiatan pendukung lawan utama Museveni, Bobi Wine. Gas air mata, tembakan peluru, hingga penangkapan massal menjadi pemandangan rutin. Bahkan, pemerintah memutus akses internet dan membatasi layanan telepon seluler secara nasional menjelang hari pencoblosan.

Aparat Bertindak Kerasdi Pemilu Uganda, Kekhawatiran Kerusuhan Meningkat

Langkah represif tersebut memicu kekhawatiran akan kerusuhan pasca-pemungutan suara. Banyak pengamat membandingkannya dengan kekerasan politik di Tanzania pada Oktober lalu yang menelan ratusan korban jiwa.

Dilansir dari The Guardian, para analis menilai reaksi pemerintah justru menunjukkan bahwa Partai National Resistance Movement (NRM) tengah menghadapi ujian terberatnya. Alih-alih meredam ketegangan, Pemilu Uganda berpotensi memperlebar jurang polarisasi politik.

Museveni vs Bobi Wine: Generasi Lama dan Baru

Museveni, 81 tahun, maju untuk masa jabatan ketujuh. Bagi sebagian besar warga Uganda, ia adalah satu-satunya presiden yang pernah mereka kenal. Sebaliknya, Bobi Wine—penyanyi yang beralih menjadi politisi—menjadi simbol perlawanan generasi muda yang resah dengan masa depan mereka.

Museveni berkuasa sejak 1986 usai memimpin perang saudara selama lima tahun. Ia sempat mendapat pujian karena membawa stabilitas, pertumbuhan ekonomi, dan transisi demokrasi. Namun, harapan perubahan itu memudar seiring tudingan korupsi, otoritarianisme, dan pelemahan lembaga peradilan.

Kritik HAM dan Tekanan Internasional di Pemilu Uganda

Menjelang Pemilu Uganda, organisasi HAM dan PBB menyoroti penggunaan undang-undang pasca-2021 untuk membungkam oposisi. Sejumlah aktivis ditangkap, lembaga swadaya masyarakat dihentikan kegiatannya, dan intimidasi dilaporkan terjadi secara luas.

Pemerintah berdalih aparat hanya menindak perilaku “melanggar hukum” pendukung oposisi. Bahkan, dalam pidato akhir tahun, Museveni secara terbuka meminta aparat menggunakan lebih banyak gas air mata untuk membubarkan massa oposisi.

Janji Stabilitas vs Tuntutan Perubahan

Museveni tetap mengandalkan narasi stabilitas. lewat slogan “melindungi capaian”, ia menjanjikan penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, serta nilai tambah sektor pertanian dan produksi minyak yang mulai tahun ini.

Namun, Bobi Wine menawarkan arah sebaliknya. Manifestonya menjanjikan “reset total Uganda”, dengan penegakan HAM dan pemberantasan korupsi sebagai agenda utama. Pendukungnya menilai Pemilu Uganda sebagai momentum terakhir untuk perubahan damai.

Baca juga : iran/rump Naikkan Tarif 25 Persen ke Mitra Dagang Iran

Analisis: Hasil Nyaris Pasti, Masa Depan Tetap Suram

Sejarawan politik Mwambutsya Ndebesa menilai keunggulan Museveni hampir mustahil tertatandingi. Kendali atas negara, sumber daya, dan infrastruktur memberi keuntungan struktural besar bagi petahana. Karena itu, banyak analis menilai kemenangan Museveni “hampir pasti”.

Namun, sorotan kini tertuju pada satu hal lain: suksesi. Museveni disebut-sebut menyiapkan putranya, Jenderal Muhoozi Kainerugaba, meski hal itu dibantah. Dengan 21,6 juta pemilih terdaftar, Pemilu Uganda bukan sekadar soal pemenang, melainkan arah masa depan negara yang masih rawan instabilitas.

klik link ini untuk update cuaca di daerahmu