Penulisan Buku 100 Tahun Kepariwisataan Bali Terus Digodok
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Tim penyusun yang terdiri atas 20 orang, termasuk lima guru besar, terus menggodok penulisan buku 100 Tahun Kepariwisataan Bali. Penggodokan penulisan buku tersebut dilakukan melalui focus group discussion (FGD). Buku ini rencananya diterbitkan pada 2027, bertepatan dengan peringatan satu abad pariwisata Bali.
FGD yang digelar di Institute Seni Indonesia (ISI) Bali pada Rabu (16/9/2026) merupakan FGD tahap II. Adapun FGD Tahap I digelar pada 13 Juli 2026.
Rektor Institute Seni Indonesia (ISI) Bali sekaligus Ketua Tim Penyusun Prof Kun Adnyana dalam paparanya membagai perkembangan 100 tahun kepariwisataan Bali menjadi lima pembabakan waktu.
Lima pembabakan waktu tersebut antara lain Masa Pembentukan Kepariwisataan Bali yang dimulai tahun 1927-1945, lalu Masa Kebangkitan Pariwisata Bali Pertama (1945-1965), Masa Kebangkitan Kedua (1965-1996), Masa Kebangkitan Ketiga (1997-2017), dan Masa Kebangkitan Keempat (2018-kini).
Pada periode 1927-1945, terdapat sejumlah peristiwa penting yang dipaparkan mantan Kadis Kebudayaan Bali ini. Peristiwa itu menjadi embrio awal pariwisata di Bali. Peristiwa tersebut yakni kunjungan parlemen Belanda, pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), Kolaborasi Walter Spies dan Seniman Bali, Kunjungan Rabindranat Tagore, dan brosur pariwisata berbahasa Inggris pertama.
Dari sisi infrakstruktur pada periode ini mulai dibangun Pasanggrahan Wisata, Bali Hotel di Jalan Veteran, Denpasar, Hotel Campuhan, Ubud, Museum Bali, dan Gedung Kerthya.
Selanjutnya pada periode 1945-1965, Kun Adnyana mengatakan pariwisata Bali telah memiliki visi dan regulasi kepariwisataan, walaupun katanya belum berbentuk peraturan atau regulasi.
Dari sisi infrastruktur pada periode tersebut dibangun Bandara Ngurah Rai dan Hotel Bali Beach. Seiring dengan itu, objek wisata Sanur mulai berkembang menjadi destinasi pariwisata. Di samping Sanur, tempat lainya yang mulai di lirik adalah Tirta Empul Tampak Siring dan Gunung Kawi.
“Ada juga lawatan dunia dan event budaya di Bali, jadi delegasi KKT Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung itu mengunjungi Bali atas saran Prensiden Soekarno, lalu ada juga Sidang Komite Eksekutive Konfrensi Pengarang Asia-Afrika atau KPAA di Sanur” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kun Adnyana mengatakan pada periode 1966-1966 yang disebut sebagai masa kebangkitan pariwisata Bali kedua, visi pariwisata Bali semakin matang yang ditandai dengan terbitnya Peraturan Daerah TKI Bali Nomor 3 Tahun 1974 tentang Pariwisata Budaya dan Visi Sapta Pesona.
“Jadi sudah ditegaskan bagaimana arah pariwisata budaya Bali itu harus menuju,” terangnya.
Pada periode ini, Kuta, Uluwatu, dan Jatiluwih mulai terbangun sebagai destinasi wisata. Dari sisi infrastruktur pariwisata, pada periode ini ditandai dengan terbitnya Master Plan SCETO Nusa Dua, lalu ada Segera Village, Tanjung Sari, Hotel Mutiara, dan invansi infrastruktur pariwisata global.
Adapun infrastruktur wahana apresiasi seni yang terbangun pada periode ini yaitu Taman Werdhi Budaya, Amphitheater Nusa Dua, Neka Art, Rudana Art Museum, dan Agung Rai Museum of ART.
Sementara itu lawatan dunia yang tercatat penting adalah kunjungan Ratu Elisabeth, Kunjungan Presiden Ronald Reagan, Visit Indonesia Year dalam PATA, dan Pesta Kesenian Bali.
“Lawatan ini mempengaruhi pariwisata sekurang-kurangnya citra pariwisata Bali,” ungkapnya.
Kun Adnyana mengatakan pada periode ini, kelembagaan pariwisata juga mulai terbentuk diantara Institusi Pendidikan Pariwisata, PHRI, PUTRI, dan ASITA.
Seiring dengan perkembangan tersebut, Kun Adnyana mengatakan pariwisata Bali memberikan sejumlah persoalan yaitu alih fungsi lahan, desakralisasi budaya, dan sekuralisasi ritus dan seni sakral.
Selanjutnya, pada periode 1997-2017, pariwisata menunjukan perkembangan signifikan. Hal tersebut ditandai dengan invasi II infrastruktur pariwisata global, lalu hadirnya infrastruktur pariwisata super mewah seperti St. Regist Nusa Dua dan Avurpa Kempinski.
Dari sisi wahana apresiasi seni budaya pada periode ini ada Garuda Wisnu Kencana, Taman Safari Marine Park, dan Bali Zoo. Lalu lawatan dunia dan event budaya ada kunjungan Raja Arab Saudi, Nusa Dua Carnival, Sanur Village Festival, Bali for World, Penglipuran Village Festival, Ubud Writer and Readers Festival.
Adapun pada periode 2018-kini, Kun Adnyana mengatakan perkembangan pariwisata Bali ditandai dengan visi pariwisata Bali semakin tegas yaitu pariwisata Bali berkualitas, bermartabat, dan berbasis budaya.
Visi ini ditunjang oleh sejunlah regulasi antara lain Perda No 5 Tahun 2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali, Perda 6 tahun 2023 tentang Pungutan Bagi Wisatawan Asing, dan Perda 2 Tahun 2025 tentang perubahan atas Perda 6 Tahun 2023.
Dari sisi infrastruktur di bangun Shorctcard Mengwitani Singaraja, Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali, Pelabuhan Segitiga Sanur, Nusa Lembongan dan Nusa Penida, dan Rumah Sakit Internasional.
Sementara itu, pada periode ini tercatat sejumlah lawatan penting yaitu perhelatan G20, Festival Bali Jani, Pameran Kerajinan Bali Bangkit, Bali Global Axis of Art and Design.
Materi Masih Dinamis
Sementara itu, Ketua Panitia FGD Prof Komang Sudirga mengatakan materi dalam penulisan 100 Tahun Kepariwisataan Bali masih dinamis. Ia mengatakan setiap masukan dari proses FGD akan didiskusikan kembali bersama tim penyusun.
Prof Komang Sudirga menjelaskan FGD tahap II ini merupakan lanjutan dari FGD tahap I yang telah digelar. Dalam FGD tahap I itu, pembahasan lebih fokus pada mencari tonggak awal perkembangan pariwisata Bali. Ia mengatakan sejumlah pakar pun diundang untuk mendiskusikan hal tersebut.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan