Arya Wibawa Dukung MTKF XVII, Tradisi Melayangan Bali Didorong Terus Berkembang
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR — Sebanyak 1.685 layangan dari berbagai jenis tradisional dan kreasi meramaikan Mel Tanjung Kite Festival (MTKF) XVII Tahun 2026 di Kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Minggu (9/8). Festival layang-layang yang digelar selama tiga hari ini menjadi ruang pelestarian tradisi melayangan sekaligus wadah kreativitas bagi para pelayang atau rare angon di Bali.
Kegiatan yang digelar oleh ST. Eka Dharma, Banjar Tanjung, Desa Sanur Kauh tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, dengan menarik layangan bersama jajaran undangan.
Turut hadir Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar yang juga Pembina Mel Tanjung Kite Festival, I Wayan Mariyana Wandhira, Anggota DPRD Provinsi Bali AA Gede Agung Suyoga, Camat Denpasar Selatan Ida Bagus Made Purwanasara, Perbekel Desa Sanur Kauh I Made Ada, Bendesa Adat Intaran I Gusti Agung Alit Kencana serta undangan lainnya.
Suasana Pantai Mertasari tampak semarak dengan para peserta yang mempersiapkan berbagai jenis layangan untuk diterbangkan. Usai membuka festival, Arya Wibawa turut menyaksikan jalannya perlombaan yang diawali dengan seri Layangan Tradisional Janggan Remaja.
Meski kondisi angin belum berhembus optimal, para pelayang tetap menunjukkan keterampilan dan strategi untuk mempertahankan layangan agar tetap mengudara.
Pembina MTKF, I Wayan Mariyana Wandhira, mengatakan MTKF XVII Tahun 2026 mengusung tema “Bhumi Samudra Akasa Sanggama”, yang bermakna keharmonisan antara darat, laut, dan udara sebagai fondasi lahir serta lestarinya budaya dari generasi ke generasi.
“Pelaksanaan kegiatan ini merupakan wahana untuk memberikan ruang gerak kepada para pelayang agar dalam bermain layangan tetap mengedepankan rasa tanggung jawab serta meningkatkan rasa kebersamaan di antara generasi muda dan masyarakat pelayang pada khususnya,” ujar Wandhira.
Ia menjelaskan, festival tahun ini menghadirkan kategori remaja dan dewasa dengan beragam jenis layangan tradisional maupun kreasi. Beberapa di antaranya Layangan Tradisional Bebean, Bebean Big Size, Janggan, Janggan Buntut, Janggan Buntut Big Size, Pecuk, hingga seri layangan mini.
Khusus layangan tradisional, peserta diwajibkan menggunakan kain dengan corak warna Bali, yakni merah, kuning, hitam, dan putih. Selain itu, turut diperlombakan seri layangan plastik, layangan celepuk, dan layangan mini size.
“Peserta tahun ini berasal dari sekaa, klub, maupun perorangan, dengan jumlah mencapai 1.685 layangan dari berbagai jenis tradisional dan kreasi,” jelasnya.
Wandhira berharap pelaksanaan festival yang telah memasuki tahun ke-17 tersebut dapat terus berkembang secara profesional dan konsisten. Selain menjadi ajang perlombaan, MTKF diharapkan mampu menjaga tradisi melayangan tetap hidup dan memberikan ruang ekspresi bagi generasi muda.
Dorong Tradisi Rare Angon Tetap Hidup
Sementara itu, Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa memberikan apresiasi atas pelaksanaan MTKF XVII. Menurutnya, kegiatan yang telah menjadi agenda tahunan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan seni dan tradisi melayangan di Kota Denpasar.
Arya Wibawa menegaskan, Pemerintah Kota Denpasar terus berkomitmen mendukung pelestarian tradisi melayangan. Menurutnya, melayangan tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang kreativitas dan atraksi budaya yang dapat mendukung pariwisata berbasis budaya.
“Tentu kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini sebagai wahana ekspresi dan kreativitas budaya bagi para pelayang yang dikenal sebagai rare angon,” ujar Arya Wibawa.
Ia mengatakan layang-layang tradisional memiliki ciri dan keunikan tersendiri sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Bali. Tradisi tersebut juga terus berkembang melalui kreativitas dan inovasi generasi muda.
“Layang-layang tradisional merupakan salah satu potensi budaya masyarakat yang memiliki ciri dan keunikan tersendiri. Tradisi ini juga mendorong munculnya kreativitas dan inovasi baru yang bermuara pada kelestarian budaya serta mendukung kemajuan pariwisata berbasis budaya,” katanya.
Arya Wibawa berharap MTKF dapat terus dilaksanakan dan berkembang dari tahun ke tahun. Tidak hanya dari sisi penyelenggaraan dan kualitas perlombaan, tetapi juga dalam memberikan ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan tradisi melayangan.
Dengan semangat tersebut, keberadaan rare angon diharapkan tidak sekadar menjadi bagian dari tradisi masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang sebagai identitas budaya sekaligus ruang kreativitas generasi muda Bali.

Tinggalkan Balasan