Saturday, 16-10-2021

Dr. Gayatri Ungkap Hasil Penelitiannya Terkait Hare Krishna Ideologi Transnasional

DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Akademisi sekaligus peneliti ajaran ISKCON (Internasional Society for Krishna Consciousness) Hare Krishna, Dr. Ida Ayu Made Gayatri, S.Sn., ungkap hasil penelitiannya terkait ajaran Hare Krishna yang ramai belakangan ini adalah sebuah ideologi organisasi transnasional.

“Ideologi transnasional dipahami sebagai gerakan politik internasional yang berusaha mengubah tatanan dunia berdasarkan ideologi keagamaan fundamentalis tik, tekstual, skriptualis radikal, sangat puritan dan bersikap eksklusif. Melakukan klaim sepihak atas nama agama atau Tuhan,” jelas Gayatri di Denpasar Bali, Sabtu (22/05/2021)

Gayatri menerangkan ideologi transnasional merupakan paham atau pemikiran yang disebarkan secara lintas batas negara bersama identitas yang mewakilinya. Paham ini dipersepsikan dalam bentuk neoliberalisme dan fundamentalisme agama. “Biasanya pengikut ideologi ini berargumentasi bahwa memiliki Tuhan dengan nama berbeda adalah kebebasan,” singgungnya.

Sementara konteks Ketuhanan yang Maha Esa dalam Pancasila dikatakan Gayatri haruslah mengacu pada ke-Tuhan-nan sesuai dengan agama masing-masing yang sudah diakui negara. Dalam praktiknya ditegaskan tidak ada umat agama manapun di Indonesia dibenarkan menduakan Allah, Kristus, Budha dan juga Ida Sang Hyang Widhi. Seperti umat Agama Hindu di Indonesia menyebut Tuhan adalah Ida Sang Hyang Widi Wasa dengan pakem keagamaan telah ditetapkan sesuai dengan kearifan budaya nusantara.

“Aturan keagamaan bersifat tunggal sesuai tafsir mereka sendiri, aturan manusia dianggap menyingkirkan kekuasaan Tuhan. Dengan demikian, ideologi ini menentang konsep negara-bangsa (nation-state) yaitu tentang negara modern yang terkait erat dengan paham kebangsaan dan nasionalisme,” terangnya.

Diungkapkan, modus dilakukan organisasi transnasional yaitu mengibarkan simbol-simbol agama dan mengutip kalimat suci ketuhanan. Sisi lain mencaci maki dan menstigma orang atau kelompok lain berseberangan dengan pemikiran dan ideologi mereka sebagai liyan (the other). “Ini masalah wawasan kebangsaan dan bagaimana bersikap dalam bela negara,” pesan Gayatri.

Dalam penelitiannya dikatakan ISKCON atau Hare Krishna merupakan ideologi organisasi transnasional bersifat konservatif ortodoks dengan karakteristik men-Tuhan-kan guru. Selain itu hanya tunduk pada tujuan serta perintah dari garis organisasi perguruan spiritual (parampara) bukan pada tujuan negara.

“Pada Hare Krishna ISCKON, Caitanya Mahaprabhu yang lahir pada 18 Februari 1458 di Nadiya Benggala dipuja sebagai Tuhan yang Maha Esa. Namun dalam propagandanya, terjadi manipulasi dilakukan dalam penyebaran buku Bhagawadgita versi Srila Prabhupada kepada masyarakat,”

“Seolah Caitanya Mahaprabu adalah Krishna dalam epos Mahabhrata dan tokoh dalam, Bhagawadgita. Padahal dalam kenyataanya, ISCKON telah menyesatkan masyarakat dengan memanipulasi seolah dipuja Sri Krishna (putra dari Devaki) dalam Epos Mahabhrata, padahal dipuja adalah Krishna Caitanya Mahaprabu (putra dari Srimati),” singgungnya.

Gayatri mengaku menemukan manipulasi berupa penyesatan pikiran terhadap teks dalam Bhagawadgita. Dalam Bhagawadgita menurut aslinya karangan Srila Prabupada dikatakan sebagai pendiri ISKCON atau Hare Krishna ini ditemukan sejumlah teks Sansekerta diubah sesuai dengan opini atau pandangan pribadi Srila Prabhupada.

Disinggung terkait belakangan banyak penutupan Ashram di Bali, Gayatri mengatakan bahwa keberadaan ISKCON di berbagai negara termasuk Amerika, Rusia, Inggris, Hungaria, Australia juga ditentang keabsahan organisasinya. Pengikutnya disebut Gayatri dituding berperilaku seperti pengemis, membuat keributan dengan kirtan, menyebarkan superioritas kontroversial dari guru-guru mereka.

“Governing Body Commission (GBC) merupakan badan pemerintah ISKCON dan manajerial tertinggi yang berkedudukan di Amerika. Komunitas ISKCON membangun proyek perkampungan eksklusif khusus bhakta Hare Krishna bernama Gita Nagari di Lampung. Model diaspora budaya abad ke-15 baik cara dan gaya hidup dari masyarakat Benggala (sekarang disebut Bangladesh) ini diadopsi dikembangkan secara nasional melalui agenda nasional ISKCON. Diaspora budaya Benggala inilah yang dianggap sebagai kualifikasi utama bagi nilai kehidupan keagamaan yang murni sesuai Veda,” beber Gayatri. (Tim)

Berita ini membutuhkan konfirmasi lebih lanjut. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada pihak HK di Bali yang dapat dihubungi untuk memberikan konfirmasi.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button